- Peta Analog
Peta analog (antara lain peta topografi, peta tanah dan sebagainya) yaitu peta dalam bentuk cetak.
Pada umumnya peta analog dibuat dengan teknik kartografi, kemungkinan besar memiliki referensi
spasial seperti koordinat, skala, arah mata angin dan sebagainya.
Dalam tahapan SIG sebagai keperluan sumber data, peta analog dikonversi menjadi peta digital
dengan cara format raster diubah menjadi format vektor melalui proses dijitasi sehingga dapat
menunjukan koordinat sebenarnya di permukaan bumi.
- Peta Analog
Data Penginderaan Jauh (antara lain citra satelit, foto-udara dan sebagainya), merupakan sumber
data yang terpenting bagi SIG karena ketersediaanya secara berkala dan mencakup area tertentu.
Dengan adanya bermacam-macam satelit di ruang angkasa dengan spesifikasinya masing-masing,
kita bisa memperoleh berbagai jenis citra satelit untuk beragam tujuan pemakaian. Data ini biasanya
direpresentasikan dalam format raster. - Data Sistem Penginderaan Jauh
Data pengukuran lapangan yang dihasilkan berdasarkan teknik perhitungan tersendiri, pada umumnya
data ini merupakan sumber data atribut contohnya: batas administrasi, batas kepemilikan lahan, batas
persil, batas hak pengusahaan hutan dan lain-lain.
Global Positioning System - Data Hasil Pengukuran Lapangan
Teknologi GPS memberikan terobosan penting dalam menyediakan data bagi SIG. Keakuratan
pengukuran GPS semakin tinggi dengan berkembangnya teknologi. Data ini biasanya
direpresentasikan dalam format vektor. Pembahasan mengenai GPS akan diterangkan selanjutnya.
1.3. Peta, Proyeksi Peta, Sistem Koordinat, Survey dan GPS
Data spatial yang dibutuhkan pada SIG dapat diperoleh dengan berbagai cara, salah satunya melalui
survei dan pemetaan yaitu penentuan posisi/koordinat di lapangan. Berikut ini akan dijelaskan secara
ringkas beberapa hal yang berkaitan dengan posisi/koordinat serta metoda-metoda untuk
mendapatkan informasi posisi tersebut di lapangan. - Data GPS
- Modul Pelatihan ArcGIS Tingkat Dasar
1.3.1. Peta
Peta adalah gambaran sebagian atau seluruh muka bumi baik yang terletak di atas maupun di bawah
permukaan dan disajikan pada bidang datar pada skala dan proyeksi tertentu (secara matematis).
Karena dibatasi oleh skala dan proyeksi maka peta tidak akan pernah selengkap dan sedetail aslinya
(bumi), karena itu diperlukan penyederhanaan dan pemilihan unsur yang akan ditampilkan pada peta.
1.3.2. Proyeksi Peta
Pada dasarnya bentuk bumi tidak datar tapi mendekati bulat maka untuk menggambarkan sebagian
muka bumi untuk kepentingan pembuatan peta, perlu dilakukan langkah-langkah agar bentuk yang
mendekati bulat tersebut dapat didatarkan dan distorsinya dapat terkontrol, untuk itu dilakukan
proyeksi ke bidang datar.
1.3.2.1. Pengelompokan Proyeksi Peta
1.3.2.1.1. Berdasar Mempertahankan Sifat Aslinya
1. Luas permukaan yang tetap (ekuivalen)
2. Bentuk yang tetap (konform)
3. Jarak yang tetap (ekuidistan)
Perbandingan dari daerah yang sama untuk proyeksi yang berbeda :
1.3.2.1.2. Berdasar Bidang Proyeksi yang Digunakan
1. Bidang datar
2. Bidang kerucut
3. Bidang silinder
Proyeksi Bidang Datar : Proyeksi Kerucut :
5
Proyeksi Silinder :
Universal Transverse Mercator
1.3.2.2. Proyeksi
(UTM)
Proyeksi UTM dibuat oleh US Army sekitar tahun 1940-an. Sejak saat itu proyeksi ini menjadi standar
untuk pemetaan topografi.
1.3.2.2.1. Sifat-sifat Proyeksi UTM
1. Proyeksi ini adalah proyeksi Transverse Mercator yang memotong bola bumi pada dua buah
meridian, yang disebut dengan meridian standar. Meridian pada pusat zone disebut sebagai
meridian tengah.
2. Daerah diantara dua meridian ini disebut zone. Lebar zone adalah 6 sehingga bola bumi dibagi
menjadi 60 zone.
3. Perbesaran pada meridian tengah adalah 0,9996.
4. Perbesaran pada meridian standar adalah 1.
5. Perbesaran pada meridian tepi adalah 1,001.
6. Satuan ukuran yang digunakan adalah meter.
1.3.2.2.2. Sistem Koordinat UTM
Untuk menghindari koordinat negatif dalam proyeksi UTM setiap meridian tengah dalam tiap zone
diberi harga 500.000 mT (meter timur). Untuk harga-harga ke arah utara, ekuator dipakai sebagai
garis datum dan diberi harga 0 mU (meter utara). Untuk perhitungan ke arah selatan ekuator diberi
harga 10.000.000 mU.
Wilayah Indonesia (90° – 144° BT dan 11° LS – 6° LU) terbagi dalam 9 zone UTM, dengan demikian
wilayah Indonesia dimulai dari zona 46 sampai zona 54 (meridian sentral 93° – 141° BT).
1.3.2.3. Metoda Penentuan Posisi
Metoda penentuan posisi adalah cara untuk mendapatkan informasi koordinat suatu objek (contoh
koordinat titik batas, koordinat batas persil tanah dan lain-lain) di lapangan. Metoda penentuan posisi
dapat dibedakan dalam dua bagian, yaitu metoda penentuan posisi terestris dan metoda penentuan
posisi extra-terestris (satelit).
Pada metoda terestris penentuan posisi titik dilakukan dengan melakukan pengamatan terhadap
target atau objek yang terletak di permukaan bumi. Beberapa contoh metoda yang umum digunakan
adalah :
1. Metode poligon.
2. Metode pengikatan ke muka.
3. Metode pengikatan ke belakang.
4. Dan lain-lain.
Pada metode ekstra terestris penentuan posisi dilakukan berdasarkan pengamatan terhadap benda
atau objek di angkasa seperti bintang, bulan, quasar dan satelit buatan manusia, beberapa contoh
penentuan posisi extra terestris adalah sebagai berikut :
1. Astronomi geodesi.
2. Transit Dopler.
3. Global Positioning System (GPS).
4. Dan lain-lain.
1.3.3. Sistem Koordinat
Posisi suatu titik biasanya dinyatakan dengan koordinat (dua-dimensi atau tiga-dimensi) yang
mengacu pada suatu sistem koordinat tertentu. Sistem koordinat itu sendiri dapat didefinisikan dengan
menspesfikasi tiga parameter berikut, yaitu :
1.3.3.1. Lokasi Titik Nol dari Sistem Koordinat
Posisi suatu titik di permukaan bumi umumnya ditetapkan dalam/terhadap suatu sistem koordinat
terestris. Titik nol dari sistem koordinat terestris ini dapat berlokasi di titik pusat massa bumi (
sistem
koordinat geosentrik),
maupun di salah satu titik di permukaan bumi (
sistem koordinat toposentrik
).
1.3.3.2. Orientasi dari Sumbu-sumbu Koordinat
Posisi tiga-dimensi (3D) suatu titik di permukaan bumi umumnya dinyatakan dalam suatu sistem
koordinat geosentrik. Tergantung dari parameter-parameter pendefinisi koordinat yang digunakan,
dikenal dua sistem koordinat yang umum digunakan, yaitu
sistem koordinat Kartesian (X,Y,Z)
dan
sistem koordinat Geodetik
(L,B,h),
yang keduanya diilustrasikan pada gambar berikut :
Z
A
K ut u b
Pe rmu ka a n
h
Bu mi
A
K oordi na t K ar te si a n :
Gr ee nw i ch
Z
(X
, Y
, Z
)
A
A
A
A
P us at
Y
B um i
K oordi na t Ge odet ik :
A
X
A
A
(
,
, h
)
A
A
A
A
X Y
E li ps oi d re f e ren si
Koordinat 3D suatu titik juga bisa dinyatakan dalam suatu sistem koordinat toposentrik, yaitu
umumnya dalam bentuk sistem koordinat Kartesian (N,E,U) yang diilustrasikan pada gambar berikut.
A
A
Zenith (U)
Zenith (U)
Sistem Koordinat
Sistem Koordinat
Sistem Koordinat
Toposentrik
Toposentrik
Toposentrik
Utara (N)
Utara (N)
U
U
U
A
A
A
Koordinat Kartesian :
Koordinat Kartesian :
E
E
(N
(N
, E
, E
, U
, U
)
)
A
A
A
A
A
A
A
A
N
N
A
A
Timur (E)
Timur
(E)
Titik di
Titik di
Titik di
permukaan bumi
permukaan bumi
permukaan bumi
8
GIS Konsorsium Aceh Nias
Aceh_Nias_GIS@yahoogroups.com
Modul Pelatihan ArcGIS Tingkat Dasar
Parameter - parameter (kartesian, curvilinear) yang digunakan untuk mendefiniskan posisi suatu titik
dalam sistem koordinat tersebut. Posisi titik juga dapat dinyatakan dalam 2D, baik dalam (L,B),
ataupun dalam suatu sistem proyeksi tertentu (x,y) seperti Polyeder, Traverse Mercator (TM) dan
Universal Traverse Mercator (UTM).
1.3.4. Metode Penentuan Posisi Global (GPS)
GPS adalah sistem navigasi dan penentuan posisi menggunakan satelit yang dikembangkan dan
dikelola oleh Departemen Pertahanan Amerika Serikat. GPS dapat memberikan informasi tentang
posisi, kecepatan dan waktu di mana saja di muka bumi setiap saat, dengan ketelitian penentuan
posisi dalam fraksi milimeter sampai dengan meter. Kemampuan jangkauannya mencakup seluruh
dunia dan dapat digunakan banyak orang setiap saat pada waktu yang sama (Abidin,H.Z, 1995).
Prinsip dasar penentuan posisi dengan GPS adalah perpotongan ke belakang dengan pengukuran
jarak secara simultan ke beberapa satelit GPS seperti gambar berikut :
1.3.4.1. Sistem GPS
Untuk dapat melaksanakan prinsip penentuan posisi di atas, GPS dikelola dalam suatu sistem GPS
yang terdiri dari dari 3 bagian utama yaitu bagian angkasa, bagian pengontrol dan bagian pemakai,
seperti gambar berikut :
SA TE L IT
. 21 + 3 s at e l it
. pe ri ode orb it : 12 ja m
. a lt i t ude orb it : 20200 km
PE NG GU NA
. Me nga m a t i si nya l G PS
. H i tun g pos i si da n ke c epa t a n
. D a pa tka n i nform a si
m eng en ai wa kt u
SIS TE M K ON T ROL
. Si nkroni s as i w akt u
. Pre di ksi orbi t
. Inj eks i da t a
. Moni t or ke se ha ta n sa t el i t
1.3.4.1.1. Bagian Angkasa
Terdiri dari satelit-satelit GPS yang mengorbit mengelilingi bumi, jumlah satelit GPS adalah 24 buah.
Satelit GPS mengorbit mengelilingi bumi dalam 6 bidang orbit dengan tinggi rata-rata setiap satelit
± 20.200 Km dari permukaan bumi.
9
Sabtu, 18 Juni 2011
Sumber Data Spasial
Author: Unknown
| Posted at: 13.33 |
Filed Under:
arcgis